Senin, 19 Juni 2017

Fayakhun Andriadi Harap Menlu Aktif Bela WNI di Luar Negeri

Ratusan ribu warga negara di Indonesia berada di luar negeri dan di berbagai negara di belahan dunia. Mereka terdiri para pekerja, peneliti, mahasiswa dan berbagai profesi lainnya. Banyak dari mereka yang meskipun berada di luar negeri, identitas sebagai orang Indonesia tetap dijaga. Dari sekian banyak orang Indonesia tersebut, para pekerja atau buruh migran yang paling banyak mendapatkan kekerasan, baik itu kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Belum lagi kepentingan-kepentingan warga negara Indonesia yang kadang masih belum didapatkan secara maksimal.

Oleh karena itu, Anggota Komisi I DPR RI Fayakhun Andriadi meminta Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa agar aktif dan bekerja keras membela kepentingan warga negara Indonesia di luar negeri.
“Jangan selalu reaksioner dan nanti ditekan publik baru ada tindak konkret. Bersikap lebih tegas dan keraslah membela WNI dari berbagai penghinaan asing,” katanya di Jakarta, Sabtu 5 Mei 2012.
Fayakhun Andriadi mengatakan itu terkait masih tingginya tindakan semena-mena pihak asing, terutama di Malaysia, Singapura, serta beberapa negara Timur Tengah atas TKI atau TKW.

“Misalnya mengenai TKI yang diberondong polisi Malaysia. Tindakan ini berlebihan sebab tugas polisi adalah menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat,” ujar anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta ini.

Jadi, menurut Fayakhun Andriadi, tugas polisi itu sifatnya melumpuhkan, bukan membunuh. “Kelakuan polisi Malaysia adalah pelanggaran HAM berat. Makanya kami mendesak Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa untuk bersikap tegas dan keras terhadap tindakan polisi Malaysia yang telah melanggar HAM atas WNI,” kata Fayakhun menegaskan.

Fayakhun Andriadi juga meminta Menlu Marty untuk memanggil Duta Besar (Dubes) Malaysia di Jakarta. “Sebab, penjelasan Pemerintah Malaysia harus konkret dan jelas, dalam hal ini adalah tanggungjawab kepala polisinya,” ujar Fayakhun Andriadi.

Oleh karena itu, sekali lagi Fayakhun Andriadi meminta Menlu RI harus aktif melaporkan ke Mahkamah Internasional di Den Hag karena kedua negara sudah meratifikasi HAM di PBB.
“Mahkamah Internasional adalah pihak netral untuk menyelesaikan masalah ini. Tentu Marty harus aktif dan kerja keras membela WNI atas pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat polisi Malaysia,” demikian tegas Fayakhun Andiradi.

Fayakhun Andriadi berharap sangat pemerintah siap pasang badan untuk warga negara Indonesia yang sedang berada di luar negeri. Jangan sampai pemerintah terkesan abai atau angkat tangan terhadap segala permasalahan yang menimpa mereka.

“Jangan sampai laih, pemerintah seperti itu,” tandas Fayakhun Andriadi. 

Kamis, 15 Juni 2017

Fayakhun Andriadi: Pembagian Era Teknologi Komunikasi



Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, adalah anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ir. Haditirto Djoyodirdjo dan Etty Artiadi. Fayakhun berasal dari keluarga pekerja keras. Di usia 23 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Semarang. Politisi muda yang sekarang menjadi anggota DPR RI ini semenjak kecil telah terbiasa berprestasi dan mengikuti berkembangan zaman. Selain sibuk di dunia politik, Fayakhun masih menyempatkan diri berbagi pemikiran melalui tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya membahas mengenai “teknologi” yang menjadi salah satu bidang keahliannya.

Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Demokrasi di Tangan Netizen”, Fayakhun Andriadi menyebutkan bahwa sebenarnya teknologi memiliki sejarah panjang.  Terdapat beberapa pembagian episode perjalanan manusia bersama teknologi. Salah satu yang dijadikan rujukan Fayakhun dalam membagi periodisasi teknologi ini adalah merujuk pada teori yang dipaparkan oleh Marshall McLuhan (1994).

Marshall McLuhan merupakan salah seorang ilmuwan yang menelusuri sejarah peradaban teknologi yang ditorehkan manusia seperti halnya Toffler.  Dibanding Toffler, McLuhan lebih spesifik menelusuri evolusi teknologi komunikasi-informasi manusia dari abad ke abad. Dalam pandangan McLuhan (1994), manusia telah menjalani empat periode perkembangan teknologi komunikasi-informasi.empat periode tersebut adalah:

Pertama, The Tribal Age atau era purba. Pada era ini, manusia sepenuhnya mengandalkan indra pendengaran. Dengan indra itulah manusia menjalankan sistem komunikasinya.
Kedua, The Age of Literacy. Fase ini ditandai dengan ditemukannya huruf atau alfabet. Penemuan ini menggeser sistem komunikasi manusia. Manusia yang mulanya mengandalkan indera pendengaran untuk berkomunikasi mulai menjadikan indera penglihatan sebagai cara komunikasi utama. Pola komunikasi yang bercirikan bahasa tutur berubah menjadi bahasa tulis. Cara penyampaian informasi yang semula melalui ucapan begeser menjadi cara komunikasi menggunakan tulisan.
Ketiga, The Print Age. Era ini ditandai oleh penemuan mesin cetak. Pada era ini, pola komunikasi semakin efektif, efisien, dan semakin luas jangkauannya. Jika tangan manusia hanya mampu memproduksi beberapa eksemplar surat dalam sehari, mesin cetak mampu menggandakannya menjadi ratusan hanya dalam waktu satu jam.

Keempat atau terakhir adalah The Electronic Age.  Era ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam alat atau teknologi komunikasi seperti telegram, telepon, radio, film, televisi, komputer, dan  terutama internet. Sistem komunikasi berubah menjadi jauh lebih efisien, terintegrasi, dan lebuh cepat dari semula.

Kamis, 08 Juni 2017

Belajar dari Fayakhun Cerdas Menaklukkan Rasa Cinta


Bagi Fayakhun, cinta yang mualanya adalah rahmat, gara-gara ketidakmengertian si pelaku, bagaimana cara menanganinya, malah jadi bencana. Jangan salah, harre genne yang nggak ngerti mengelola cinta, banyak banget!

Fayakhun mengutip dari tulisanna Zizi Hefni dari buku “Pacaran After Marrid”, umumnya yang gagal menangani rasa cintanya sendiri adalah mereka yang tidak menyelaraskan hatinya dengan akal pikirannya. Bukan Cuma itu, mereka pasti juga tidak memahami ajaran agama mereka sendiri. Sebab, di agama mana pun khususnya islam, cinta itu punya prosedur dan prosesi yang sakral dan bermartabat. Secara, cinta adalah rasa agung, nggak mungkin dong aplikasinya pakai cara asal-asalan dan serampangan, alias tidak melibatkan akal dan norma agama?
Fayakhun, walaupun ia jatuh cinta tapi juga dengan menggunakan pikiran yang jernih. Ia tidak mau cinta buta. Ia tidak semena-mena terjebak dengan perasaan cinta. Walaupun dia mencintai seseorang wanita, tapi dia tidak terjebak dengan balada cinta. Semua aktivitas kesehariannya dijalani dengan baik.

Ada pilihan cara yang masing-masing punya konsekuensi, kata Fayakhun. Allah menumbuhkan bibit percintaan dalam hati setiap manusia tanpa terkecuali. Yang miskin, yang kaya, yang bego, yang pinter, yang ganteng, yang cebol, yang cacat, yang sakit semua, menurut Fayakhun rata. Bibit itu tumbuh secara alami dan menemukan nasibnya sendiri.
Bukan berarti yang kaya jatuh cinta sama yang jelek. Bisa jadi yang kaya klepek-klepek sama yang miskin. Yang cantik berletuk lutut sama yang jelek. Menurut Fayakhun, kalau ada yang ngomong, cinta bermula dari pandangan mata, itu ada benarnya juga. Secara, liat laki-laki ganteng, nggak usah munafik, kalau hati kecilmu mengangumi keistimewaan itu. jangan salah, menurut Fayakhun, banyak penelitian, mata itu memiliki kekuatan magis untuk menarik hasrat seseorang. Bahkan hanya dengan mengerlingkan mata, seseorang yang sedang dalam keadaan stabil, bisa tiba-tiba kehilangan konsentrasi.


Fayakhun mengutip M. Quraisy Syihab dalam buku pengantin Al-Qur’an, menuliskan kalau mata adalah indra yang paling dominan peranannya dalam memilih kekasih serta melestarikan kasih. Bila mata sudah tertarik pada satu objek, maka objek itu akan dinilai cantik dan indah.