![]() |
| Rifqinizamy Karsayuda; Perang Opini Menjelang Pilkada 2017 |
Momentum pilkada yang jatuh lima tahunan itu selalu menarik di ikuti. Terutama pilkada Jakarta. Apalagi dengan munculnya pasangan Anis, Agus yang menjadi pesaing Ahok, menambah keramaian pilkada DKI 2017. Berbeda dengan Pilkada sebelumnya, Partai politik dan pasangan yang maju sebagai balon Bupati dan wakil Bupati. Tapi sekarang yang maju bukan dari kalangan kader politik. tentu ini mengubah strategi dia di dalam menjajakan program, visi dan misinya (marketing political) partai.
Pandangan Rifqinizamy Karsayuda
Bagi Rifqinizamy Karsayuda hal ini saja jauh-jauh hari sudah
disiapkan oleh masing-masing bakal calon, dan partai politik. Cara apa yang
paling efektif untuk menjual, agar publik punya daya lekat, daya ingat, empati,
dan menanam memorinya di keputusan terakhirnya di bilik suara kelak nantinya.
Peran media tersebut
sangat penting selain akan menjadi alat
promosi dan propaganda yang paling efektif. Betapa tidak ? Citra publik
terhadap tampilan dari tokoh-tokoh parpol yang mereka usung, adalah etalase
pertama, ketika publik berjumpa dengannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rifqinizamy Karsayuda, seorang
pengamat pilkada. “Media cetak dan
media online, akan menjadi incaran, karena karakteristiknya yang populis,
egaliter dan dekat dengan masyarakat.”Kata Rifqinizamy Karsayuda.
Rifqinizamy Karsayuda juga menjelaskan, media cetak dan online punya keunggulan pada kecepatan dan
fleksibilitas konten dalam mentransformasi setiap perkembangan yang terjadi
secara berimbang, ujarnya.
Rifqinizamy Karsayuda Perang Opini
Ia mencontohkan “perang opini” dan pencitraan antara
dua bakal calon presiden RI, Jokowi dan prabowo, belakangan
ini sangat jelas arahnya di perankan oleh media sehingga kemenangan pun tak
luput dari aksi yang diperankan masing-masing media.
“Cara opini dari kedua pendukung balon tersebut adalah
“perang opini” yang demikian transparan dan terang benderang, Hasilnya tentu saja berharap, bahwa publik
diajak untuk terus menerus mengikuti perkembangan dari waktu ke waktu terhadap
sepak terjang dan citra dari kedua kandidat itu,” jelasnya.
Rifqinizamy Karsayuda menambahkan Opini pencitraan atau pembunuhan karakter,
hanyalah bagian dari promosi, propaganda politik, dan mau tidak mau inilah
bagian dari strategi dan manajemen dari pihak-pihak yang “cerdas” di dalam
memanfaatkan media. Jadi adu strategi di panggung politik merupakan
“positioning: dan upaya membaca segmentasi pemilih Parpol lewat litbang-nya
tentu tak bisa tinggal diam.
Menurutnya, pengamat serta ahli hukum tersebut Kanal media
yang disiapkan sebagai proses transformasi politik ini adalah keniscayaan yang
harus diterima sebagai sebuah perubahan paradigma berfikir. Kita tidak bisa
memandang dan mengklasifikasi secara detil tentang karakteristik pemilih
(publik), apakah mereka digolongkan dalam kelompok rasional atau tradisional.
Tetapi yang jelas, publik sudah tidak bisa menjauh dari pesatnya perkembangan
media. Tukas Rifqinizamy Karsayuda.
