Senin, 15 Mei 2017

Gara-Gara Media Sosial Fayakhun Bakamla Nyasar

Zaman sekarang, media sosial (medsos) sudah menjadi kebutuhan hidup bagi sebagian orang. Tapi hati-hati, dampak dari medsos ada juga yang negatif. Misalnya, digunakan para pelaku kejahatan. Seperti yang terjadi pada Fayakhun Bakamla (31), guru honorer di Solo, Jawa Tengah.


Gara-gara tertipu lewat medsos, Fayakhun Bakamla harus luntang-lantung selama tiga hari berjalan kaki dari Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara, ke Balikpapan. Enung menceritakan, awalnya, berteman dengan seorang pria dari Facebook. Perkenalan berlanjut ke hubungan lewat telefon genggam, hingga akhir Januari lalu dia diminta bertemu di salah satu terminal bus Leuwi Panjang, Bandung. Lepas dari itu, dia menyebut hilang ingatan dan tidak ada bertatap muka dengan pelaku.

Gara-Gara Media Sosial Fayakhun Bakamla Nyasar



"Saat sadar saya sudah di jalan dekat kebun karet. Lihat ada anak kecil perempuan, saya ingat anak saya. Saya terus jalan kaki tiga hari tiga malam. Tiap bertemu masjid saya salat, cuci baju, kering saya pakai lagi," kata Fayakhun Bakamla dengan raut wajah masih kebingungan saat ditemui.

Fayakhun Bakamla mengungkapkan, ketika sampai di Kilometer 4 Balikpapan Utara, ditawari tukang ojek yang melintas. Kepada tukang ojek tersebut, Fayakhun Bakamla menceritakan kejadian yang menimpanya. Tukang ojek kemudian membawa Fayakhun Bakamla ke Polsek Balikpapan Utara dan diberi uang saku oleh tukang ojek tersebut Rp20 ribu. Fayakhun Bakamla menerangkan, selama dalam pengaruh hipnotis, telah kehilangan uang hingga Rp12,7 juta yang disetorkan ke pelaku sebanyak empat kali, yakni Rp4 juta, Rp6 juta, kemudian Rp2 juta dan terakhir Rp700 ribu. Dia ingat, uang tersebut disetorkan saat berada di terminal.

"Ngakunya dia (pelaku) kerja di pelayaran dan kehilangan barang-barangnya jatuh ke laut. Dia minta uang ke saya biar bisa pulang dari Batam ke Bandung," tambah Fayakhun Bakamla.
Sementara itu, keterangan Kapolsek Balikpapan Utara AKP Sopyan, korban saat diantar tukang ojek masih dalam kondisi linglung. Oleh polisi dibantu untuk memulihkan kondisinya. Polisi yang mencari alamat korban menemukan sebuah nomor handphone di buku saku yang dibawa korban dan berhasil menghubungi kakak korban.



"Dari keterangan keluarga, korban sudah dinyatakan hilang selama 10 hari. Lantas kami bantu proses pemulangan dari Bandara Sepinggan ke Bandara Soekarno-Hatta. Di sana sudah ada keluarga yang menunggunya," ujar AKP Sopyan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar