Rabu, 31 Mei 2017

Fayakhun Andriadi, Indonesia Harus Bersikap!

Fayakhun Andriadi mengomentari soal Korea Utara menembakkan lusinan bom artileri ke sebuah pulau di Korea Selatan. Sedikitnya dua tentara marinir Korea Selatan tewas, belasan terluka, dan menyulut ledakan yang membakar sejumlah rumah dalam serangan paling berbahaya atas tetangganya itu sejak Perang Korea diakhiri dengan gencatan senjata pada 1953.

Fayakhun Andriadi, Indonesia Harus Bersikap!


Ketegangan ini menurut Fayakhun Andriadi merupakan kelanjutan dari hubungan “panas-dingin” Korea Utara dengan Selatan selama kuran lebih 6 dasawarsa. Aksi tembak-menembak di semenanjung Korea (serangan torpedo terhadap Korea Selatan pada Maret yang menwaskan 46 pelaut Korea Selatan), konflik perbatasan laut,  hingga penurunan harga saham di Seoul, India, Filipina, dan Eropa.

Pengembangan misil nuklir dan uji coba misil memunculkan resistensi negara-negara Eropa dan Asia. Kondisi ini menurut Fayakhun Andriadi tidak hanya menyudutkan posisi Korea Utara dan hubungannya dengan negara-negara di dunia, tapi juga bersimbas pada kondisi ekonomi negara tersebut. Pada akhir 2009, jutaan warga Korea Utara terancam kelaparan, sementara dampak hubungan bilateral yang buruk kedua negara berpengaruh pada hubungan Korea dengan negara-negara lain yang notabene termasuk sumber pendapatan penting Korea Utara dan Selatan melalui aktivitas ekspor dan impor.

Dampak Asimetris bagi Fayakhun Andriadi


Dampak perang dingin menurut Fayakhun Andriadi telah mendikotomi eksistensi utara dan selatan Korea. Warna komunisme yang lekat mengidentifikasi Korea Utara senantiasa berada dalam ketegangan akut dengan Korea Selatan yang diwarisi oleh kedigdayaan republikan ala Amerika Serikat. Globalisasi yang mengangkat status Amerika Serikat sebagai penguasa dunia, menyisakan warisan ideologis yang turut mempengaruhi hubungan kedua negara semenanjung Korea tersebut.

Larut dalam kondisi tersebut, menurut Fayakhun Andriadi Korea Utara membangun jaringan konvensional yang bersifat militeristik, hingga pengayaan uranium yang ditunjukkan terang-terangan yang sudah pasti akan mengancam kehidupan umat manusia di masa yang akan datang. Kekhawatiran Amerika dan dunia dijadikan nilai tawar untuk mengurai kebuntuan hubungan ideologis tersebut. Puncaknya, tarik-menarik kepentingan antara blok komunisme dan demokrasi liberal menjadi persoalan turunan yang terus dihembuskan dan berbuntut panjang hingga saat ini.

Konflik yang diwarisi dari persoalan ideologis masa lalu menurut Fayakhun Andriadi tidak harus berbuah ancaman yang nyata dan kasat mata. Tidak hanya berdampak pada hubungan langsung antara pihak yang bertikai, tapi juga juga kepada pihak-pihak yang secara tidak langsung menerima pengaruh sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Pada titik itulah, Fayakhun Andriadi berpendapat krisis semenanjung Korea ini merupakan persoalan global dan persoalan bersama yang menuntut respons cepat dan positif, termasuk respons Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar