Fayakhun Andriadi
mengomentari soal Korea Utara menembakkan lusinan bom artileri ke sebuah pulau
di Korea Selatan. Sedikitnya dua tentara marinir Korea Selatan tewas, belasan
terluka, dan menyulut ledakan yang membakar sejumlah rumah dalam serangan
paling berbahaya atas tetangganya itu sejak Perang Korea diakhiri dengan
gencatan senjata pada 1953.
Ketegangan ini
menurut Fayakhun Andriadi merupakan
kelanjutan dari hubungan “panas-dingin” Korea Utara dengan Selatan selama kuran
lebih 6 dasawarsa. Aksi tembak-menembak di semenanjung Korea (serangan torpedo
terhadap Korea Selatan pada Maret yang menwaskan 46 pelaut Korea Selatan),
konflik perbatasan laut, hingga
penurunan harga saham di Seoul, India, Filipina, dan Eropa.
Pengembangan
misil nuklir dan uji coba misil memunculkan resistensi negara-negara Eropa dan
Asia. Kondisi ini menurut Fayakhun
Andriadi tidak hanya menyudutkan posisi Korea Utara dan hubungannya dengan
negara-negara di dunia, tapi juga bersimbas pada kondisi ekonomi negara
tersebut. Pada akhir 2009, jutaan warga Korea Utara terancam kelaparan,
sementara dampak hubungan bilateral yang buruk kedua negara berpengaruh pada
hubungan Korea dengan negara-negara lain yang notabene termasuk sumber
pendapatan penting Korea Utara dan Selatan melalui aktivitas ekspor dan impor.
Dampak Asimetris bagi Fayakhun Andriadi
Dampak perang
dingin menurut Fayakhun Andriadi
telah mendikotomi eksistensi utara dan selatan Korea. Warna komunisme yang
lekat mengidentifikasi Korea Utara senantiasa berada dalam ketegangan akut
dengan Korea Selatan yang diwarisi oleh kedigdayaan republikan ala Amerika
Serikat. Globalisasi yang mengangkat status Amerika Serikat sebagai penguasa
dunia, menyisakan warisan ideologis yang turut mempengaruhi hubungan kedua
negara semenanjung Korea tersebut.
Larut dalam
kondisi tersebut, menurut Fayakhun
Andriadi Korea Utara membangun jaringan konvensional yang bersifat
militeristik, hingga pengayaan uranium yang ditunjukkan terang-terangan yang
sudah pasti akan mengancam kehidupan umat manusia di masa yang akan datang.
Kekhawatiran Amerika dan dunia dijadikan nilai tawar untuk mengurai kebuntuan
hubungan ideologis tersebut. Puncaknya, tarik-menarik kepentingan antara blok
komunisme dan demokrasi liberal menjadi persoalan turunan yang terus
dihembuskan dan berbuntut panjang hingga saat ini.
Konflik yang
diwarisi dari persoalan ideologis masa lalu menurut Fayakhun Andriadi tidak harus berbuah ancaman yang nyata dan kasat
mata. Tidak hanya berdampak pada hubungan langsung antara pihak yang bertikai,
tapi juga juga kepada pihak-pihak yang secara tidak langsung menerima pengaruh
sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Pada titik itulah, Fayakhun Andriadi berpendapat krisis semenanjung Korea ini
merupakan persoalan global dan persoalan bersama yang menuntut respons cepat
dan positif, termasuk respons Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar